6.5.11

MENGENAL PANGAN HASIL REKAYASA GENETIKA

Selama bertahun-tahun, manusia telah melakukan seleksi tanaman untuk menghasilkan produk bahan pangan yang lebih baik untuk kelangsungan hidupnya. Meskipun mereka tidak mengetahui pengetahuan rekayasa genetika, pada kenyataannya mereka telah menggunakan prinsip-prinsip bioteknologi. Dengan kata lain leluhur kita telah memindahkan dan mengubah gen untuk meningkatkan kualitas makanan tanpa menyadarinya. Sekarang, bioteknologi modern memungkinkan produsen makanan untuk melakukan hal yang sama tetapi dengan pemahaman dan ketepatan yang lebih tinggi. 
Rekayasa genetika merupakan salah satu teknik bioteknologi yang dilakukan dengan cara pemindahan gen dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya (dikenal juga dengan istilah transgenik). Tujuannya adalah untuk menghasilkan tanaman/hewan/jasad renik yang memiliki sifat-sifat tertentu sehingga mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi manusia. Gen merupakan suatu unit biologis yang menentukan sifat-sifat makhluk hidup yang dapat diturunkan.
Pangan hasil rekayasa genetika merupakan pangan yang diturunkan dari makhluk hidup hasil rekayasa genetika. Pada umumnya pangan bersumber dari tanaman, dan tanamanlah yang sekarang ini paling banyak dimuliakan melalui teknik rekayasa genetika. Tanaman hasil rekayasa genetika dikembangkan menggunakan alat bioteknologi modern. Berbeda dengan metode pertanian tradisional/konvensional. Keduanya mempunyai maksud yang sama yaitu menghasilkan varietas tanaman unggul dengan sifat yang telah diperbaiki, yang menjadikannya lebih baik untuk ditanam, dan lebih menarik untuk dimakan serta manfaat lainnya. Perbedaannya terletak pada bagaimana hasil itu diperoleh. “Pemuliaan tradisional memerlukan persilangan yang mencampur ribuan gen dari dua jenis tanaman dengan harapan akan mendapatkan sifat yang diinginkan. Dengan bioteknologi modern, seseorang dapat memilih sifat yang diinginkan dan menyisipkan sifat tersebut ke dalam biji. Sama halnya dengan menambahkan satu kata Spanyol ke dalam kamus bahasa Inggris. Dengan pemuliaan tanaman tradisional seseorang harus mencampur kedua kamus tersebut menjadi satu dan mengharapkan kata yang diinginkan berakhir dalam bahasa Inggris. Tentu saja akan banyak kata lain yang tidak diinginkan mulus, efisien dan memberikan hasil yang lebih baik”. (American Dietetic Association, Biotechnology resource kit,2000).
     Pada tahun 1994, tanaman pangan hasil rekayasa genetika pertama, tomat dengan sifat kemasakan tertunda, ditanam dan dikonsumsi di Negara maju. Sejak saat itu jumlah pangan yang berasal dari tanaman hasil rekayasa genetika kian hari kian bertambah. 
    Meskipun demikian, pengenalan makanan baru sebagai bagian dari menu kita menimbulkan kecemasan yang beralasan tentang keamanannya. Berikut beberapa contoh pernyataan terkait dengan isu keamanan pangan produk rekayasa genetika :
·         “Tingkat keamanan yang terkait dengan pangan produk rekayasa genetika, sekurang-kurangnya sama dengan pangan lainnya. Proses pengkajian keamanan yang dilakukan terhadap pangan hasil rekayasa lebih lengkap bila dibandingkan dengan yang dilakukan terhadap pangan lainnya. Proses pengkajian keamanan memberikan jaminan bahwa pangan produk rekayasa genetika memberikan semua keuntungan yang diberikan oleh pangan konvensional tanpa memberikan tambahan resiko” (The Australia New Zealand Food Authority).
·         “Kami belum pernah melihat bukti bahwa pangan hasil rekayasa genetika yang sekarang ada di pasaran membahayakan kesehatan manusia atau kurang aman bila dibandingkan dengan produk tanaman hasil pemuliaan tradisional” (Jane E. Henney, Commissioner, US FDA,2000).
·         “Konsultasi telah dipuaskan dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkaji keamanan dari pangan hasil rekayasa genetika, yang telah disetujui untuk tujuan komersial” (FAO/WHO Expert Consultation Report, 2000).
·         “Salah satu ciri dari teknologi rekayasa genetika adalah pemindahan satu atau beberapa gen yang sudah diketahui dengan pasti. Hal ini memungkinkan pengujian toksisitas tanaman rekayasa genetika dapat langsung dilakukan, tidak seperti tanaman yang dimuliakan secara konvensional yang mempunyai sifat baru”. (World Academies of Science [Brazil, China,India, Mexico, UK, USA, and The 3rd World Academies of Science], 2000)   
     Pangan yang berasal dari tanaman hasil rekayasa genetika telah mengalami lebih banyak pengujian dibandingkan dengan pangan lainnya dalam sejarah. Sebelum dipasarkan pangan tersebut dikaji sesuai dengan pedoman yang telah dikeluarkan oleh berbagai lembaga ilmiah internasional seperti World Health Organization (WHO), Food And Agriculture Organization (FAO) dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).
Pedoman tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Pangan hasil rekayasa genetika harus diatur seperti halnya dengan pengaturan pangan yang dihasilkan dengan metode selain rekayasa genetika. Resiko yang terkait dengan pangan yang berasal dari hasil rekayasa pada dasarnya sama dengan pangan yang dihasilkan secara konvensional 
  2. Produk-produk tersebut akan dinilai berdasarkan keamanan, alergenisitas, toksisitas, dan nutrisinya masing-masing, bukan atas dasar metode atau teknik yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut. 
  3. Setiap penambahan unsur baru ke dalam pangan melalui rekayasa genetika akan dimintakan persetujuan sebelum dipasarkan seperti halnya penambahan bahan tambahan pangan (misalnya pengawet dan pewarna) untuk makanan yang harus mendapat izin sebelum diedarkan.

Beberapa Contoh Pangan Hasil Rekayasa Genetika
Tanaman pangan hasil rekayasa genetika hampir serupa dengan tanaman aslinya tetapi mempunyai ciri-ciri istimewa yang menjadikannya lebih baik dan bermutu. Tanaman hasil rekayasa genetika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Daya tahan terhadap penyakit
2.      Toleransi terhadap herbisida
3.      Profil nutrisi yang lebih baik
4.      Masa simpan lebih lama

Kedelai toleran herbisida
Kedelai toleran herbisida mengandung gen yang resisten terhadap suatu herbisida spektrum luas yang ramah lingkungan. Kedelai jenis ini lebih memudahkan petani untuk mengontrol rumput dan mengurangi kerusakan tanaman.
Keuntungan lain yaitu efisiensi ladang dengan hasil yang optimal, efisiensi waktu serta meningkatkan fleksibilitas rotasi tanaman. Kedelai ini memiliki nilai gizi dan komposisi yang sama dengan kedelai jenis lain.

Jagung Tahan Serangga
            Jagung ini mengandung suatu protein pembunuh serangga yang berasal dari mikroorganisme tanah (Bt) yang memberikan perlindungan dari serangga pengorek jagung (corn borers). Protein Bt ini telah digunakan sebagai insektisida organik yang aman selama lebih dari 40 tahun. Dengan menanam jagung ini petani tidak perlu menggunakan insektisida. Jagung Bt juga dapat mengurangi kontaminasi toksin yang disebabkan oleh serangan jamur pada biji yang rusak.

Kentang Tahan Serangga
            Sama halnya dengan jagung tahan serangga, kentang jenis ini juga mengandung protein yang memberikan perlindungan terhadap serangan kumbang kentang Colorado.

Tomat dengan Kematangan Tertunda
            Tomat jenis ini merupakan tanaman pangan rekayasa pertama yang dihasilkan di sebuah Negara maju. Tomat jenis ini mempunyai masa simpan lebih lama karena mengandung suatu gen yang dapat memperlambat proses pelunakan. Tomat ini mempunyai rasa yang lebih enak dibandingkan tomat jenis lain. Masa simpan yang lebih lama memberikan keuntungan yaitu mengurangi biaya produksi selama proses panen dan distribusi.

Pepaya Tahan Virus
            Pepaya yang dihasilkan di Hawaii ini mempunyai gen yang mengkode protein coat dari pepaya ringspot virus (PRSV). Protein ini memberikan perlindungan ketahanan di dalam pepaya terhadap serangan virus PRSV.

BAGAIMANA PANGAN HASIL REKAYASA GENETIKA DIKAJI KEAMANANNYA??
Sebelum pangan hasil rekayasa genetika dipasarkan, harus diuji secara teliti terlebih dahulu oleh pengembang, dan secara terpisah diuji oleh pakar di bidang nutrisi, toksikologi, alergenitas dan berbagai aspek pangan lainnya. Pengkajian keamanan pangan tersebut didasarkan pada pedoman yang telah disusun oleh badan pengaturan yang kompeten dari setiap negara yang meliputi : deskripsi produk pangan, informasi rinci tentang maksud penggunaannya, data molekuler, toksikologi, nutrisi dan alergenisitas. Berikut adalah pertanyaan khusus yang harus dijawab oleh pengembang :
  • Apakah ada pangan yang sejenis dengan pangan hasil rekayasa genetika yang selama ini terbukti aman digunakan?
  • Apakah ada perubahan konsentrasi toksin dan alergen yang terdapat dalam pangan?
  • Apakah tingkat dari nutrisi kunci berubah?
  • Apakah substansi baru dalam pangan hasil rekayasa genetika memiliki sejarah pemakaian yang aman?
  • Apakah daya cerna makan menjadi berubah?
  • Apakah pangan tersebut diproduksi dengan menggunakan prosedur yang berlaku dan diterima?


Bahkan setelah pertanyaan tersebut dan beberapa pertanyaan lainnya terjawab, masih ada beberapa langkah dalam proses persetujuan sebelum pangan diedarkan. Kenyataannya produk pangan hasil rekayasa genetika lebih banyak diteliti dibandingkan dengan produk pangan lain yang dihasilkan secara konvensional.


ISU PENTING YANG TERKAIT DENGAN KEAMANAN PANGAN HASIL REKAYASA GENETIKA
Resistensi Terhadap Antibiotika
            Beberapa tanaman produk bioteknologi mengandung gen yang mengatur sifat yang disebut dengan resistensi terhadap antibiotika. Peneliti menggunakan gen tersebut sebagai penanda untuk mengetahui apakah gen yang diinginkan telah berhasil dimasukkan ke dalam sel. Kekhawatiran yang timbul adalah gen penanda tersebut dapat pindah dari tanaman produk rekayasa genetika ke mikroorganisme, yang umumnya terdapat dalam usus manusia dan mengakibatkan meningkatnya ketahanan terhadap antibiotika. Telah banyak pengkajian dan penelitian tentang hal ini dan menyimpulkan sebagai berikut :
  • Kemungkinan pindahnya gen resisten terhadap antibiotika ke organisme lainnya adalah sangat-sangat kecil, dan
  • Apabila kemungkinan yang sangat kecil tersebut terjadi, dampak daripada pemindahan sifat resisten terhadap antibiotika ini dapat diabaikan, karena penanda yang digunakan sangat terbatas digunakan pada manusia dan hewan.

Meskipun demikian, peyaringan alergenisitas merupakan bagian yang sangat penting dari uji keamanan pangan sebelum suatu pangan diedarkan. Alergen mempunyai kesamaan sifat seperti : tetap stabil selama pencernaan, cenderung tetap stabil selama proses pembuatan pangan, terdapat dalam jumlah besar dalam pangan. Tidak satupun protein yang dimasukkan ke dalam produk rekayasa genetika memiliki salah satu dari sifat tersebut. Protein dalam produk rekayasa genetika memiliki fungsi yang telah diketahui dengan cermat dan berada dalam jumlah yang sangat sedikit, mudah terdegradasi dalam usus.  


REFERENSI
1.      Publikasi WHO (2003) : “20 Question On Genetically Modified (GM) Foods
2.      Asian Food Information Centre, Apa yang perlu diketahui tentang bioteknologi makanan
3.      International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications, Global Knowledge Center on Crop Biotechnology, Pocket K No.1
4.      International Service for the Aqquisition of Agri-Biotech Applications, Global Knowledge Center on Crop Biotechnology, Pocket K No.2
5.      International Service for the Aqquisition of Agri-Biotech Applications, Global Knowledge Center on Crop Biotechnology, Pocket K No.3


Sumber kutipan : Republika/ Selasa, 29 Mei 2007

2 komentar:

Anonim mengatakan...

nama makanan dan merek apa yg dari hasil rekayasa genetika?

makalahkami mengatakan...

mencegah lebih baik daripada mengobati.. hati-hati ketika makan makanan cepat saji..